Menanam Kacang Tanah di Desa Wisata Branjang

Tanaman kacang tanah sudah begitu dikenal oleh penduduk di Indonesia. Tanaman ini begitu cocok di wilayah Indonesia. Biasanya petani menanamnya ketika musim kemarau, sebab kacang tanah membutuhkan penyinaran matahari penuh untuk pertumbuhan daun dan perkembangan isi. Sebaliknya curah hujan yang tinggi beresiko membuat tanaman ini membusuk dan gagal panen.

Di Desa Branjang sendiri banyak petani yang rutin menanam kacang ketika musim kemarau. Selain berharap meraih keuntungan juga menyesuaikan debit air yang berkurang ketika musim kemarau. Tanaman kacang ini termasuk jenis palawija. Jadi jeda menanam padi dengan tanaman palawija ini sangat penting untuk mengembalikan kesuburan tanah. Hal ini disebabkan karena kacang tanah ini meningkatkan nitrogen dalam tanah sehingga menambah unsur hara dalam tanah.

Cara mengolahnya bagi petani juga cukup mudah walau diperlukan tenaga ekstra. Mulai dari persiapan lahan dengan mengolah tanah agar tanah gembur, memberi pupuk organik, memberi kapur dolomit jika diperlukan, pembuatan bedengan, memilih dan menanam kacang. “Monjo” istilah petani Desa Branjang. Dilanjut “ngelep” merendam air tiap beberapa hari sesuai jadwal giliran air. Dilanjut “ndangir” atau membersihkan gulma dan menjaga ketinggian bedeng. Juga pemberian pupuk agar tanaman tumbuh dengan baik.

Waktu Panen

Sekitar 100 hari lebih maka tanaman ini biasanya siap dipanen. Ditandai dengan daun kuning yang mulai berguguran. Bila terlalu tua justru kacang tanah akan tumbuh kembali menjadi tanaman baru. Jadi tidak bisa terlalu lama. Bila petani memanen sendiri, banyak juga warga lain yang membantu. Biasanya para peternak kambing untuk mendapat “rendeng” (daun kacangnya). Ada pula yang menjualnya ke “penebas” pembeli panen secara borongan.

Setelah dipanen ada yang dijemur ada pula yang langsung dijual di pasar. Bila dijemur setelah kering nanti dikupas dan dijual dalam bentuk tanpa kulit. Kalau di jual langsung di pasar, setelah ditimbang akan dipotong 10 % dari berat timbangan sebagai kompensasi ke pembeli mengingat dikulit  kacang tanah masih banyak menempel tanah.

Pemasaran

Dari kacang yang sudah tanpa kulit nantinya dijual di warung – warung dan di beli warga untuk berbagai keperluan. Ada yang menjadi sambal kacang, gula kacang, rempeyek kacang, dan lain – lain. Untuk kacang yang masih ada kulitnya biasanya diproses menjadi kacang kulit dan selanjutnya dikemas untuk didistribusikan ke pasar – pasar.

Puncak harga jual kacang tanah biasanya di bulan Agustus. Dimana pada bulan itu seluruh warga negara Indonesia merayakan kemerdekaannya dan banyak membuat acara untuk memeriahkan kemerdekaan. Dan olahan kacang utamanya kacang kulit ataupun kacang rebus menjadi primadonanya. Menjadi teman warga berbincang dan menikmati acara.

Mengingat pasarnya sangat luas dan sudah seperti menjadi menu wajib ketika ada acara, maka menanam kacang tanah diharapkan petani agar harganya stabil dan menguntungkan para petani. Karena dari sinilah para petani bisa tersenyum lebih lebar merasakan jerih payahnya dihargai dan bermanfaat bagi banyak orang.

Walaupun demikian tidak semua orang pernah merasakan sensasi memanen kacang tanah. Mencabutnya langsung dari tanah. Melihat tanaman-tanaman lain yang tumbuh bersama kacang. Menghirup udara segar di kebun kacang. Mengolah kacang tanah sendiri. Anda tertarik? Ayo ke Desa Wisata Branjang, kami akan menyajikan spesial buat anda. Mumpung masih banyak yang siap panen.

Tulis Komentar

Your Alamat email will not be published.

Artikel Terbaru

Perbedaan Gula Jawa dan Gula Aren

Perbedaan Gula Jawa dan Gula Aren

Khasiat Daun Kelor

Khasiat Daun Kelor untuk Kesehatan dan Kecantikan

1000 Manfaat Daun Kelor

Kategori
× Chat